Saturday, February 20, 2021

Hadits ke 4 : Tahapan Penciptaan Manusia dan Amalan Terakhirnya

Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, Rasulullah SAW, yang jujur dan terpercaya bersabda kepada kami, "Sesungguhnya penciptaan kalian dikumpukan dalam rahim ibu, selama empat puluh hari berupa nutfah (sperma), lalu menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu pula, lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula. Lalu Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan mencatat 4 (empat) perkara yang telah ditentukan, yaitu rezeki, ajal, amal dan sengsara atau bahagianya.

Demi Allah, Dzat yang tiada tuhan selain dia, sesungguhnya ada diantara kalian yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta (dari siku sampai ujung jari), namun suratan takdirnya sudah ditetapkan, lalu ia melakukan perbuatan penghuni neraka, maka ia pun masuk neraka.

Ada juga yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni neraka hingga jarak antara ia dan neraka hanya sehasta. Namun suratan takdirnya sudah ditetapkan, lalu ia melakukan perbuatan penghuni surga maka ia pun masuk surga" (H.R Bukhari dan Muslim)


Kandungan Hadits:
1. Tahapan perkembangan janin, Hadits ini menjelaskan bahwa selama seratus dua puluh hari, janin mengalami tiga kali perkembangan, perkembangan itu terjadi setiap empat puluh hari pertama.

2. Peniupan ruh, Para ulama sepakat bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin berusia seratus dua puluh hari, terhitung sejak bertemunya sel sperma dan ovum.

3. Larangan aborsi, Para ulama sepakat bahwa aborsi setelah peniupan ruh kedalam janin adalah haram. mereka menganggap ini adalah tindak pidana yang tidak boleh dilakukan seorang muslim. Jika dalam melakukan aborsi janin keluar dalam keadaan hidup lalu mati, maka dikenakan diyat (denda yang sudah ditentukan ukurannya). Jika keluar dalam keadaan mati maka dendanya lebih ringan.
Hukum ini juga berlaku untuk aborsi sebelum peniupan ruh.

4. Allah Maha Mengetahui, Sesungguhnya Allah mengetahui kondisi manusia sebelum mereka diciptakan. 

5. Menggunakan takdir sebagai argumen. Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk meyakini dan menaati-Nya, juga melarang kita dari kekufuran dan kemaksiatan. Itulah yang telah dibebankan kepada kita, Adapun apa yang telah digariskan untuk kita, sama sekali  kita tidak mengetahuinya. Karenanya, orang-orang yang kufur dan berbuat kesesatan tidak bisa menggunakan takdir sebagai argumen kekafiran dan kefasikan mereka.

6. Yang menjadi penentu adalah bagian akhir dari amal perbuatan. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya." (H.R Bukhari)

Tuesday, February 16, 2021

Makna Hadist - 1. Niat

Segala perbuatan ditentukan oleh niatnya. 

Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar Bin Khatab ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barang siapa berhijrah karena Allah  dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya. dan barang siapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju"

Kandungan Hadits
1. Syarat niat, Para ulama sepakat bahwa perbuatan seorang mukmin tidak akan diterima dan tidak akan mendapatkan pahala kecuali jika diiringi dengan niat.
Dalam ibadah inti seperti Shalat, Haji, Puasa, niat merupakan rukun, karena ibadah tersebut tidak sah kecuali diiringi niat. Dan yang menjadi sarana dari ibadah inti seperti wudhu dan mandi terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Mazhab Hanafi, niat merupakan penyem[urna untuk mendapatkan pahala sedangkan Mazhab Syafi'i dan ulama lainnya menyebutkan bahwa niat merupakan syarat sahnya sebuah ibadah.

2. Waktu dan Tempat Niat, Waktu niat adalah diawal ibadah dan Niat bertempat di hati namun boleh saja diucapkan untuk mmbantu konsentrasi hati.

3. Keharusan Hijrah
Hijrah dari negeri kafir ke negeri islam adalah wajib bagi seorang muslim jika ia tidak bisa melakukan ajaran islam dengan terang terangan. Begitu juga dengan seorang muslim yang tidak mau menegur saudaranya sesama muslim selama tiga hari. Begitu juga dengan wanita yang tidak mau berhubungan badan dengan suaminya.

4. Orang yang berniat melakukan kebaikan, namun karena satu dan lain hal, niatnya tidak terlaksana, maka orang tersebut mendapatkan pahalanya. Niat tanpa amal diberi pahala sedangkan amal tanpa niat = sia sia.

5. Hadist ini mendorong kita untuk melakukan sesuatu dengan ikhlas agar mendapatkan pahala.

6. Semua perbuatan baik dan bermanfaat, jika diiringi niat yang ikhlas dan hanya mencari keridhaan Allah, maka perbuatan tersebut adalah Ibadah.



Dikutip dari Buku AL-WAFI Syarah Kitab Arba'in An-Nawawiyah Karangan DR. Musthafa Dieb Al-Bugha Muhyiddin Mistu